SETANGKAI BUNGA BERMAHKOTA BIRU
“Puspita, seorang gadis
yang banyak tahu akan tentang makna bunga mulai dari jenis bunga, makna tiap
bunga yang ia kenal, warna bunga, dan semua bagian-bagian bunga ia dapat
mengartikan setiap bagian dari bunga yang dikenalnya. Suatu hari ada seorang
pria dengan sangat memprihatinkannya duduk disebuah taman bersama seorang
adiknya yang bermain di taman ditaman tersebut. Puspita yang heran lantas
menghampiri seorang pria yang tengah termenung juga. Kebetulan juga pria tersebut
menyukai bunga walaupun ia sempat berkata “Aku juga tidak tahu kapan aku mulai
menyukai bunga” pria itu berkata kepada Puspita tentang satu bunga yang pernah
pria itu milikki, tanpan enggan Puspita menikmati cerita pria tersebut.
Sekuntum bunga bukan anggrek
dan bukan juga mawar. Puspita yang mendengarnya langsung seloroh saja bercerita
tentang bunga anggrek sepengetahuannya ; “Aku mengenal anggrek,” “Tahukah kau,
anggrek adalah simbol cinta, kemewahan, dan keindahan?.” Si pria hanya menjawab
“aku tahu.” “Bangsa yunani menggunakan anggrek sebagai simbol kejantanan. Dan
bangsa tiongkok percaya aroma anggrek berasal dari tubuh kaisar mereka. Jika
anggrek muncul di mimpi seseorang, hal itu dipercaya sebagai simbol dari
kebutuhan akan kelembutan, romantisme, dan kesetiaan. Bahkan anggrek jadi bahan
baku utama dari ramuan cinta. “Begitu dahsyat bukan?,”
Gadis itu panjang lebar
menceritakan kembali tentang bunga anggrek. Lama-kelamaan si gadis itu
berbicara tentang bunga anggrek si pria justru ingin mendengar tentang bunga
mawar dan dengan senang hati Puspita bercerita ; “Dari budaya barat, kita
mengenal mawar sebagai cinta dan kecantikan,” imbuh si gadis. Bahkan di Inggris
mawar dijadikan bunga nasional. Di Kanada, bunga mawar liar merupakan bunga
provinsi Alberta.
Di Amerika Serikat, bunga
mawar merupakan bunga negara bagian Iowa, North Dakota, Georgia, dan New York.
“Mawar merupakan lambang dunia!,” teriak gadis itu lantang bersemangat. Puspita
melanjutkan ; “Biasanya untuk menyatakan seberapa besar cinta. Satu tangkai
berarti cintaku hanya untukmu seorang. Dua tangkai, kau dan aku saling
mencintai. Tiga tangkai, aku cinta kamu. “Semakin banyak, semakin kuat
maknanya.” 100 tangkai, jadilah pasangan yang mengasihi sampai lanjut usia. 144
tangkai, mencintaimu pagi hingga malam selama-lamanya. 365 tangkai,
memikirkanmu setiap hari, mencintaimu setiap hari. Hingga 1001 tangkai yang
melambangkan cinta selamanya.” Si pria hanya berkata “banyak sekali, aku hanya
memiliki setangkai.”
Dan pria itu menekankan
bila pria itu memiliki satu tangkai bunga namun memiliki banyak makna akan
bunganya itu, lebih dari seribu tangkai, dan mengartikannya sebagai Cinta
Sepenuhnya ujar pria itu, seketika membuat Puspita diam. Kemudian si Gadis
bertanya kepada si pria tentang apa warna bunga pria yang dimiliki pria itu,
sempat tidak ada jawaban dari mulut si pria. Puspita berkata ;”Aku paham
tentang warna-warna bunga.” namun akhirnya si pria berkata “bungaku berwarna
biru.” Namun Puspita tidak percaya dengan diperkuat dengan pengetahuaannya
tentang warna bunga ; “Di mawar saja, merah lambang cinta romantis. Putih,
kesucian dan rahasia. Merah jambu, keanggunan dan kelembutan. Kuning,
persahabatan dan kegembiraan. Jingga, hasrat dan semangat, cinta yang mulai
tumbuh.
Tak ada warna biru,” jelas gadis itu.
namun pria itu bersikeras bila bunganya berwarna biru ;
“Tapi aku ingat, bunga itu bermahkota biru.”
“Apakah kau merasa kehilangan? Seperti aku kehilangan makna warna biru.”
“Bisa jadi.” “Jadi warna itu tinggal kenangan? Mengapa kau tak memanamnya lagi?”
“Tidak.” “Mengapa?” “Karena aku takkan menanam bunga yang telah layu.”
“Tapi aku ingat, bunga itu bermahkota biru.”
“Apakah kau merasa kehilangan? Seperti aku kehilangan makna warna biru.”
“Bisa jadi.” “Jadi warna itu tinggal kenangan? Mengapa kau tak memanamnya lagi?”
“Tidak.” “Mengapa?” “Karena aku takkan menanam bunga yang telah layu.”
Si gadis menatap heran. Ia tak mengerti. Seharusnya bukankah pria itu bisa menanamnya lagi. Lelaki itu hanya menatap taman yang penuh dengan bunga putih. Namun setelah berpikir beberapa saat, si gadis baru mengerti.
Tiba-tiba langit mendung. Suasana sedikit temaram. Romantis.
Titik-titik gerimis menyirami. Sejuk rasanya. Tercium aroma wangi tanah.
“Dan sekarang inginkah kau memiliki bunga lagi?”
“Tentu saja.”
“Benarkah?” “Benar. Kenapa tidak.”
“Jika ada bunga berwarna biru, benar mau?” “Yakin. Mau.”
“Kau tahu namaku Puspita?” “Iya. Aku tahu.”
“Tahukah kau maknanya?” “Tidak. Memangnya?”
“Puspita itu bunga. Sekarang jadikan aku bungamu.”
Seketika si lelaki mengalihkan pandang dari taman. Bola matanya haru menatap tajam ke gadis bergaun biru itu.
Leave a Comment